Investasi untuk PendidikanKenapa kita perlu berinvestasi dan sudah tepatkah kendaraan investasi kita? Kita perlu berinvestasi dengan harapan dalam jangka panjang uang yang diinvestasikan akan menghasilkan nilai yang lebih tinggi dari inflasi untuk memenuhi tujuan-tujuan keuangan kita, sementara itu kendaraan investasi untuk memenuhi tujuan keuangan kita ada bermacam-macam seperti investasi dalam saham, reksadana, property, logam mulia, bisnis dll.
Pernahkah teman-teman menghitung biaya pendidikan anak-anak kita sampai Universitas? Ternyata lumayan mahal dan alangkah tidak bijak kalau kita tidak merencanakan biaya pendidikan anak-anak dari awal karena nilai uang kita ditabungan akan semakin tergerus oleh inflasi. Semasa kita masih produktif maka lebih baik untuk mempersiapkannya dari sekarang dan tentu saja investasinya akan lebih kecil karena jangka waktunya masih panjang.
Sebagai contoh dibawah ini adalah ilustrasi biaya pendidikan anak2 :
Asumsi : Anak lahir tahun 2011
Jangka Uang Pangkal* Target Investasi
Sekolah Periode Tahun waktu Present Value Future Value return bulanan
TK 2 2015 4 14,000,000.00 22,000,000.00 20% 300,000.00
SD 6 2017 6 20,000,000.00 29,500,000.00 25% 250,000.00
SMP 3 2023 12 18,000,000.00 70,000,000.00 25% 80,000.00
SMA 3 2026 15 17,000,000.00 93,000,000.00 25% 50,000.00
Uni 4 2029 18 130,000,000.00 1,000,000,000.00 25% 250,000.00
199,000,000.00 1,214,500,000.00 930,000.00
*Biaya blm termasuk SPP, dll di TK, SD Al Azhar Bintaro, SMP, SMA Al Azhar Klp Gading,Kedokteran Usakti
Ternyata biaya sekolah itu mahal banget karena rata-rata kenaikan inflasi pendidikan di Indonesia adalah 20%, kemarin tetangga ada yang cerita punya teman yang anaknya mau masuk SMP Al Azhar dan sudah menyiapkan dana sebesar RP 17 juta, eh ternyata Uang Pangkal masuk SMP itu sekarang Rp 25 juta, akhirnya batal dech masuk ke SMP Al Azhar.
Sekarang mari kita lihat contoh ilustrasi pada tabel diatas, dengan memakai asumsi anak yang lahir tahun 2011, kita hitung kebutuhan uang pangkal saat ini(belum termasuk uang SPP, dll) dan future value-nya serta investasi yang harus dilakukan. Actual school fee dan target return bisa lebih tinggi dan lebih rendah. Lebih baik kita punya asumsi biaya lebih tinggi walaupun pada kenyataannya anak bisa saja masuk ke sekolah yang biayanya tidak terlalu mahal tapi kualitasnya masih bagus dan lokasinya dekat rumah kalau memungkinkan.
Dari table diatas terlihat walapun biaya masuk Universitas 18 tahun yang akan datang bisa mencapai Rp 1 M, tapi kalau disiapkan dari sekarang maka investasi per bulan yang harus dilakukan jatuhnya lebih murah dibanding investasi masuk TK. Jadi sebenarnya kalau mau investasi mulai dari sekarang, investasi untuk pendidikan anak-anak dari TK – Universitas sebesar Rp 1 juta per bulan itu affordable untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan, dengan catatan memakai kendaraan investasi yang tepat artinya uang tidak hanya disimpan ditabungan yang mempunyai return dibawah inflasi.
Investasi pendidikan untuk anak – anak sekolah bisa dilakukan kombinasi antara LM dan Reksa dana karena secara jangka panjang reksa dana mempunyai return yang lebih besar. Dengan target return yang tertera dalam table maka untuk biaya pendidikan masuk TK dan SD bisa investasi di Logam Mulai yang mempunyai return rata-rata per tahun sekitar 20% serta mudah untuk dicairkan. Sementara untuk yang jangka panjang lebih baik berinvestasi di reksa dana dengan memilih reksadana yang mempunyai return sesuai target return.
HAL – HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SEBELUM BERINVESTASI
Investing without knowledge is gambling jadi sebelum berinvestasi luangkan waktu untuk belajar tentang produk investasinya, selain itu sebelum mulai berinvestasi baik itu reksa dana, logam mulia ataupun yang lainnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Tujuan Keuangan
Tentukan terlebih dahulu tujuan berinvestasi. Ada banyak tujuan keuangan keluarga misalnya menyiapkan dana darurat, membeli rumah, membeli kendaraan, dana pensiun, pendidikan anak, naik haji, liburan, membantu saudara, sedekah dan lain-lain.
2. Jangka Waktu
Dari tujuan-tujuan tersebut diatas pasti ada jangka waktu untuk menuju tercapainya tujuan keuangan tersebut, nah jangka waktu itulah yang akan kita gunakan untuk berinvestasi dengan target return tertentu.
Dalam berinvestasi di Reksa dana penentuan jangka waktu dapat disesuaikan dengan jenis reksa dananya seperti berikut :
1. Reksadana Pasar Uang (RDPU) asumsi return : 7%
Jangka pendek 1 - 3 tahun, resiko rendah
2. Reksadana Pendapatan Tetap(RDPT) asumsi return :10%
Jangka menengah 3–4 tahun, resiko rendah
3. Reksadana Campuran(RDC) asumsi return:15-20%
Jangka menengah panjang 4 – 5 tahun, resiko sedang
4. Reksadana Saham(RDS) asumsi return : 25%
Jangka panjang > 5 tahun, resiko tinggi
3. Profil Resiko kita
Profil resiko ada 3 yaitu : konservatif, moderat dan agresif. Penentuan profil resiko sangat penting dalam investasi di Reksa dana, karena konsep dari high risk high return, jadi sesungguhnya tidak ada jaminan bahwa investasi tidak ada resikonya. Kalau yang suka jantungan ya jangan ambil resiko untuk investasi di saham karena sifatnya yang fluktuatif tapi kalau untuk persiapan dana pensiun tetap disarankan untuk memakai reksa dana saham karena dalam jangka panjang tetap menguntungkan.
Kebanyakan Financial Planner menyarankan untuk memakai reksa dana sebagai investasi untuk perencanaan keuangan keluarga. Kenapa memilih investasi di Reksa dana? Beberapa pertimbangannya adalah :
1. Dikelola oleh Manajer Investasi yang profesional
Ada beberapa MI yang bagus antara lain Schroder, PNB Paribas, Manulife, Panin, Danareksa, dll. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan patokan untuk menilai MI tersebut bagus atau tidak antara lain yaitu dana yang dikelola, mempunyai track record yang baik, untuk lebih jelasnya bisa dibaca di prospektus masing-masing produk investasi.
2. Return/Kinerja Reksadana
Sebagai contoh terlampir Fund Fact Sheet dari reksa dana Panin Dana Maksima, mari kita lihat kolom “Kinerja Portofolio” , tertulis return dalam 1 tahun adalah 65,56% melebihi indeks IHSG 33,46%. Tentunya tidak semua reksadana mempunya return yang dapat melebihi IHSG. Sementara tolak ukur return yang dipakai sebagai standart dalam perencanaan keuangan yang menggunakan reksadana saham adalah 25%, jadi return Panin Dana Maksima itu sudah melebihi target tersebut.
3. Diversifikasi Portfolio/alokasi aset dari RD
Kalau kita lihat contoh reksa dana Panin Dana Maksima, diversifikasi portfolionya ada pada saham di Perusahaan – perusahaan antara lain:
1. PT Gudang Garam
2. PT Bank Mandiri
3. PT Bank Rakyat Indonesia
4. PT Gajah Tunggal
5. PT Indofood Sukses Mandiri
6. PT BNI
7. dll
Dari daftar diatas kita bisa lihat bawah kita sudah mengenal perusahaan-perusahaan tersebut, siapa sich yang tidak suka merokok, pasti kita juga mempunyai rekening pada salah satu bank diatas, kebanyakan dari kita juga suka makan indomie, so intinya perusahaan tersebut adalah perusahaan yang dalam jangka waktu 10 – 15 tahun berkemungkinan besar masih bisa eksis dan dananya juga pasti mudah likuid.
4. Fee / biaya
Yang perlu diperhatikan juga adalah biaya pembelian (subscription fee), biaya penjualan(redemption fee), Biaya Pengalihan (switching fee) dan management fee. Sebisa mungkin dicari yang biayanya paling minimalis, terutama untuk biaya pembelian(subscription fee) karena kita pasti akan sering melakukan top up.
Sebagai contoh fee Panin Dana Maksima :
fee pembelian : 1%
fee penarikan : 1%
2 thn : 0.5%
> 2 thn : free
Minimum pembelian: Rp 1.000.000 (tanyakan kepada sales Panin untuk pembelian secara eceran dengan minimal pembelian awal Rp 250,000 dan top up bulanan Rp 100,000). Sementara untuk reksadana yang tidak ada subscription fee-nya antara lain reksadana Schroder Dana Istimewa, Manulife Saham Andalan, Manulife Dana Stabil Berimbang, dll.
5. Tidak Kena Pajak
Hasil keuntungan dan penjualan reksa dana tidak dikenai pajak, tidak seperti deposito atau obligasi.
6. Mudah Likuid
Kita dapat menjual reksa dana dan kurang lebih dalam waktu 7 hari uang sudah bisa cair.
7. Tidak perlu dana besar
Dengan investasi Rp 100,000 sudah bisa membeli reksa dana setiap bulannya.
Kesimpulan
Membaca berbagai referensi tentang investasi tapi kalau tidak ada action biasanya akan lewat begitu saja, seperti juga kalau orang belajar berenang maka harus nyemplung ke kolam renang dulu biar cepet bisa. Kalau kita sudah mulai berinvestasi walaupun sedikit maka rasanya akan berbeda, apalagi kalau kita menerima monthly statement yang berisi tentang kenaikan nilai investasi kita, hal ini akan mendorong kita lebih rajin dalam berinvestasi.
Kalaupun masih belum merasa nyaman berinvestasi dalam reksadana atau saham yang sifatnya memang fluktuatif maka masih ada beberapa alternatif investasi seperti logam mulia, property, dll, dan usahakan untuk melakukan diversifikasi investasi jadi kalaupun terjadi financial crisis kita masih punya dana ditempat lain yang bisa digunakan. Intinya sich “don’t put your money in one basket” dan harus diingat juga prinsip “high return high risk”. Tapi dengan adanya pengetahuan yang kita miliki untuk masing-masing produk investasi maka kita dapat menjadikan sebuah investasi yang “high return high risk” menjadi “high return manageable risk”.
Investasi adalah proses dan mungkin dalam setahun asset kita belum bertambah secara signifikan tapi dengan perencanaan keuangan yang baik dan investasi yang teratur maka setidaknya ada pemetaan dalam tujuan-tujuan keuangan kita seperti persiapan dana pensiun, pendidikan anak, naik haji dan sebagainya, sehingga memudahkan kita dalam memantaunya.
Terakhir yang perlu diingat adalah It is not about how much money you earn, it is about how much money you save.
Selamat berinvestasi.
Sumber :
www.kontan.co.id
www.infovesta.com : untuk melihat jenis-jenis reksa dana.
www.commbank.co.id : reksa dana dapat dibeli di bank Commonwealth(biaya lebih murah dan bisa on line) atau di bank-bank lain yang terdekat (tapi hati2 jangan mau ditawarin product unit link dari bank tersebut).
www.pans.co.id
www.danareksaonline.com